Aksesibilitas Masyarakat Miskin Terhadap Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Contoh Tesis ~ Aksesibilitas Masyarakat Miskin Terhadap Program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI): Kondisi Dan Faktor Penyebab Di Kabupaten Karanganyar

Secara khusus program BOS bertujuan untuk: Membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negeri dan SMP/SMPLB/SMPT (Terbuka) negeri terhadap biaya operasi sekolah, kecuali pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Sumbangan/pungutan bagi sekolah RSBI dan SBI harus tetap mempertimbangkan fungsi pendidikan sebagai kegiatan nirlaba, sehingga sumbangan/pungutan tidak boleh berlebih; Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta; Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dimulai sejak bulan Juli 2005, telah berperan secara signifikan dalam percepatan pencapaian program wajar 9 tahun. (DIKNAS, 2012). Oleh karena itu, mulai tahun 2009 pemerintah telah melakukan perubahan tujuan, pendekatan dan orientasi program BOS, dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas termasuk sebagai salah satu sumber pendanaan program RSBI pada jenjang SD dan SMP.

Pemerintah dalam melaksanakan program RSBI telah mengeluarkan berbagai kompensasi agar program ini dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, seperti program subisidi 20% dari APBN untuk masyarakat kurang mampu. Pada kenyataannya jumlah masyarakat miskin yang menyekolahkan anaknya di sekolah RSBI masih tergolong rendah. Pada SMP N 1 Karanganyar dari 168 jumlah siswa didik baru tahun pelajaran 2010/2011 hanya 4 orang yang yang dinyatakan bebas SPP. Dengan adanya berbagai kompensasi dan bantuan, serta pendaan BOS yang diberikan pemerintah namun masyarakat di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah masih mengeluhkan biaya masuk RSBI yang mahal dimana setiap orang tua yang anaknya lolos seleksi ujian masuk RSBI pada salah satu SMP di Karanganyar diminta mengisi blanko kesanggupan biaya sumbangan sekolah yang besarnya antara Rp 500.000,- sampai Rp 3.000.000,- (www.solopos.com ). Padahal sudah jelas tercantum dalam petunjuk pelaksanaan BOS bahwa sumbangan/pungutan bagi sekolah RSBI dan SBI harus tetap mempertimbangkan fungsi pendidikan sebagai kegiatan nirlaba, sehingga sumbangan/pungutan tidak boleh berlebih (DIKNAS, 2012). Alasan-alasan ini yang kemudian menjadi latar belakang peneliti dalam penelitian aksesibilitas masyarakat miskin terhadap program RSBI khususnya pada jenjang pendidikan menengah pertama di Kabupaten Karanganyar.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana aksesibilitas masyarakat miskin terhadap program RSBI khusunya pada jenjang pendidikan SMP di Karanganyar ?
  2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan tinggi rendahnya aksesibilitas masyarakat miskin di Karanganyar terhadap program RSBI?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang hendak penulis capai dalam penelitian ini adalah antara lain untuk :

  1. Mengetahui sejauh mana akses masyarakat miskin di Kabupaten Karanganyar terhadap program RSBI khusunya pada jenjang pendidikan menengah pertama (SMP)
  2. Mengetahui faktor-faktor apa yang mempengarhui aksesibilitas masyarakat miskin Kabupaten Karanganyar terhadap program RSBI khususnya pada jenjang pendidikan menengah pertama (SMP)

Tujuan Penelitian 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas masyarakat miskin terhadap program RSBI serta faktor penyebab tinggi rendahnya akses. Akses masyarakat dilihat dari tiga dimensi yaitu dimensi kognitif, dimensi perilaku dan dimensi birokrasi administratif.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan berlokasi di Kabupaten Karanganyar. Informan diambil berdasarkan teknik purposive sampling. Jenis data yang digunakan merupakan data primer dan data skunder dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis model interaktif.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akses masyarakat pada setiap dimensi aksesibilitas berbeda-beda. Akses masyarakat pada dimensi kognitif tinggi di kecamatan kota namun sebaliknya di kecamatan desa, akses pada dimensi perilaku rendah. Pada dimensi birokrasi administratif menunjukan akses tinggi pada dua aspek, namun pada aspek pemerataan perlakuan dengan indikator kuota beasiswa, masih rendah pada beasiswa SPP. Akses terhadap beasiswa tunai sudah tinggi. Perbedaan akses pada setiap dimensi akses disebabkan struktur sosial dan lokasi. Struktur sosial masyarakat adalah pendidikan dan status ekonomi. Masyarakat dengan pendidikan rendah memiliki akses yang rendah terhadap informasi kebijakan karena kurangnya pengetahuan dalam mencari sumber-sumber informasi kebijakan. Status ekonomi menjadi penyebab utama rendahnya akses, ketidakmampuan secara ekonomi membuat masyarakat tidak mampu membayar biaya RSBI. Masyarakat yang berlokasi jauh dari kota kabupaten memiliki akses yang rendah dibanding dengan masyarakat yang tinggal di kota kabupaten. Hal ini disebabkan minimnya fasilitas dan sarana komunikasi.

Read More Contoh Tesis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>